Viral Tiga Siswa Berjalan dengan Sandal Lusuh, Respons Cepat Kapolda NTT dan Polres TTS Hadirkan Senyum Baru bagi Anak-Anak Oelbubuk
Viral Tiga Siswa Berjalan dengan Sandal Lusuh, Respons Cepat Kapolda NTT dan Polres TTS Hadirkan Senyum Baru bagi Anak-Anak Oelbubuk
Soe, 5 Juni 2026 – Sebuah video sederhana yang beredar di media sosial mendadak menyentuh hati banyak orang. Dalam rekaman itu terlihat tiga anak sekolah dasar berjalan pulang dari sekolah dengan perlengkapan yang jauh dari kata layak. Sandal yang dikenakan tampak usang, sementara tas sekolah yang mereka bawa terlihat robek dan penuh tambalan.
Video tersebut akhirnya sampai ke perhatian Kapolda Nusa Tenggara Timur Irjen Pol Dr. Rudi Darmoko, S.I.K., M.Si., yang kemudian langsung memerintahkan jajaran Polres Timor Tengah Selatan (TTS) untuk memastikan kondisi ketiga anak tersebut sekaligus memberikan bantuan yang dibutuhkan.
Respons cepat itu menjadi bukti bahwa kepedulian terhadap pendidikan anak-anak NTT tidak berhenti pada rasa iba, tetapi diwujudkan dalam tindakan nyata.
Kapolres TTS AKBP Hendra Dorizen, S.H., S.I.K., M.H., menjelaskan bahwa setelah menerima informasi mengenai video yang viral tersebut, pihaknya langsung menginstruksikan Kapolsek Mollo Selatan bersama personel untuk mencari keberadaan anak-anak yang ada dalam video.
"Kami mendapat informasi mengenai postingan yang memperlihatkan beberapa anak sekolah berjalan pulang dengan kondisi perlengkapan sekolah yang kurang layak. Atas arahan Bapak Kapolda NTT, kami langsung turun ke lapangan untuk memastikan kondisi mereka dan mencari tahu kebutuhan yang dapat dibantu," ujar AKBP Hendra Dorizen.
Penelusuran akhirnya membawa petugas ke Desa Oelbubuk, Kecamatan Mollo Tengah, Kabupaten Timor Tengah Selatan.
Di desa yang berada di wilayah pegunungan itu, petugas bertemu dengan tiga siswa SD GMIT Oelbubuk yang menjadi perhatian publik.
Mereka adalah Jumaida Sarlota Hana Kase, 10 tahun, siswi kelas IV; Angky Gabriel Mateos Kase, 8 tahun, siswa kelas II; dan Alen Marsela Taifa, 10 tahun, siswi kelas IV.
Saat berdialog dengan anak-anak tersebut, petugas menemukan fakta sederhana namun menyentuh. Mereka tidak menggunakan sepatu ke sekolah karena sepatu yang dimiliki sudah rusak dan tidak layak dipakai lagi.
"Ketika ditanya kenapa tidak menggunakan sepatu, mereka menjawab dengan polos bahwa sepatu mereka sudah robek sehingga tidak bisa dipakai ke sekolah," kata Kapolres.
Mendengar hal tersebut, jajaran Polres TTS segera bergerak.
Pada sore harinya, Kasat Lantas Polres TTS IPTU I Gusti Komang Astina bersama personel Satlantas mengajak Jumaida dan Angky beserta ibunya menuju Kota Soe untuk membeli perlengkapan sekolah baru.
Perjalanan itu bukan sekadar membeli sepatu atau tas. Bagi kedua anak tersebut, hari itu menjadi momen yang mungkin akan terus mereka kenang.
Mereka memilih sendiri perlengkapan sekolah yang selama ini hanya menjadi harapan sederhana di tengah keterbatasan ekonomi keluarga.
Senyum yang mengembang di wajah mereka saat mencoba sepatu baru menjadi gambaran betapa hal-hal kecil dapat menghadirkan kebahagiaan besar bagi seorang anak.
"Ini bukan hanya tentang memberikan bantuan, tetapi tentang memastikan bahwa anak-anak memiliki semangat untuk terus bersekolah dan mengejar cita-cita mereka," ungkap AKBP Hendra Dorizen.
Menurutnya, pendidikan merupakan investasi masa depan yang harus dijaga bersama oleh seluruh elemen masyarakat.
Polri, kata dia, tidak hanya hadir sebagai penegak hukum, tetapi juga bagian dari masyarakat yang memiliki tanggung jawab sosial untuk membantu sesama.
"Kami ingin menunjukkan bahwa Polri selalu hadir di tengah masyarakat, bukan hanya ketika ada persoalan hukum, tetapi juga ketika masyarakat membutuhkan perhatian dan kepedulian," ujarnya.
Keharuan juga dirasakan oleh orang tua kedua anak tersebut.
Dengan mata berkaca-kaca, mereka menyampaikan rasa syukur dan terima kasih kepada Kapolda NTT dan Polres TTS yang telah memberikan perhatian kepada anak-anak mereka.
Bagi keluarga sederhana di pelosok desa itu, bantuan perlengkapan sekolah bukan hanya benda yang bisa digunakan setiap hari, tetapi juga simbol bahwa masih banyak orang yang peduli terhadap masa depan anak-anak mereka.
Sementara itu, satu anak lainnya, Alen Marsela Taifa, tidak ikut berbelanja ke Soe. Setelah dilakukan komunikasi dengan keluarga, orang tuanya menyampaikan bahwa mereka masih memiliki kemampuan untuk memenuhi kebutuhan sekolah anaknya dan sepatu yang dimiliki masih layak digunakan.
Sikap tersebut turut diapresiasi oleh jajaran Polres TTS sebagai bentuk kejujuran dan keterbukaan masyarakat.
Kapolres TTS menegaskan bahwa kepedulian terhadap pendidikan anak-anak akan terus menjadi perhatian Polri, terutama di wilayah-wilayah yang masih menghadapi berbagai keterbatasan.
"Kami berharap bantuan sederhana ini dapat menambah semangat belajar anak-anak tersebut. Mereka adalah generasi penerus yang kelak akan membangun daerah dan bangsa ini. Tugas kita bersama adalah memastikan mereka tetap memiliki kesempatan untuk meraih cita-cita," tutur AKBP Hendra Dorizen.
Di balik viralnya sebuah video, tersimpan pelajaran berharga tentang arti kepedulian.
Ketika sebuah unggahan media sosial mampu mengetuk hati banyak orang, dan ketika perhatian itu direspons dengan tindakan nyata, maka lahirlah harapan baru bagi anak-anak yang sedang berjuang menapaki jalan pendidikan.
Di Desa Oelbubuk, senyum Jumaida dan Angky sore itu menjadi bukti bahwa perhatian kecil dapat menghadirkan perubahan besar. Bahwa di balik seragam sederhana dan langkah kaki yang dulu tanpa sepatu, tersimpan mimpi-mimpi besar yang layak untuk diperjuangkan bersama.
#NttPenuhKasih


